Alif Akbar Putra Bharata, Siswa SD Al Hikmah yang Dua Kali Juarai International Mathematic Conference (IMC) 2008
Belajar Sejam Sehari, Dapat Nilai Sepuluh
Dua kali sudah Alif meraih medali di International Mathematic Comprtition (IMC) 2008. Bocah 11 tahun yang dulu ''divonis'' hiperaktif oleh psikolog itu kini berhasil memberikan kebanggaan kepada sekolah dan keluarganya.
Rumbai-rumbai pita menghiasi pintu masuk SD Al Hikmah, Surabaya, kemarin. Suara riuh siswa siswi kelas enam memadati jalanan masuk tersebut. Beberapa guru tampak menunggu dengan roman wajah yang menyiratkan keriangan. Alif Akbar Bharata akhirnya datang sekitar pukul 09.20. Dia dijemput teman sekelas di rumahnya, Jalan Gayungsari Barat. Perlakuan istimewa kepada Alif bukan tanpa alasan. Itu merupakan penghargaan atas prestasinya karena dua kali memenangi medali di ajang bergengsi bernama International Mathematic Contest 2008.
Juli lalu Alif juga memenangi medali perak untuk kontes yang sama. Tahun ini International Mathematic Contest memang diadakan dua kali. Yang pertama di Singapura pada Juli dan yang kedua di Chiang Mai Thailand pada 25-30 Oktober lalu. Di ajang yang pertama Alif membawa pulang medali perak dan yang terakhir membawa pulang perunggu. ''Yang membedakan mungkin jumlah pesertanya. Ajang pertama hanya diikuti 6 negara, sedangkan yang kedua 25 negara,'' ujar Alif.
Keikutsertaan Alif tidak disponsori dinas pendidikan. Dia mendaftar secara personal, difasilitasi SD Al Hikmah. Awalnya, dia mengikuti Kompetisi Matematika Nalar Realistik (KMNR) tingkat Jatim pada 27 April 2008. Pihak sekolah yang mengikutsertakan Alif. Di ajang tersebut dia meraih juara dua. Kemudian, ada seleksi lagi untuk tingkat nasional di Bali pada 4-7 Juli. ''Seleksi yang kedua ini saya berhasil meraih juara satu,'' ujarnya sambil tersipu malu. Setelah seleksi tersebut, beberapa anak yang menang diseleksi lagi di Sukabumi. Untuk seleksi yang itu pun, siswa pecinta matematika tersebut tetap mendapatkan juara pertama. Alif akhirnya diikutkan lomba IMC di Singapura pada 17-21 Juli.
Sebelum mengikuti lomba, dia dikarantina selama 3 hari, yakni pada 14-16 Juli. Karena Alif diberangkatkan Tim Klinik Pendidikan Matematika dan IPA (KPM), biaya akomodasi di Singapura ditanggung sendiri. Meski demikian, uang tersebut tidak sia-sia karena Alif berhasil meraih medali perak. KPM sendiri saat itu mengirimkan 12 siswa. ''Kami meraih 2 emas dan sisanya perak serta perunggu. Jumlah tepatnya saya lupa,'' ujar siswa yang hobi ngemil itu.
Pada kompetisi kedua di Chiang Mai, Thailand, biaya akomodasi ditanggung panitia IMC. Ada beberapa perbedaan antara IMC di Singapura dan Thailand. Salah satu di antaranya adalah pengerjaan soal. Di Singapura, seluruh soal dikerjakan sendiri. Namun, di Thailand ada soal-soal yang dikerjakan secara berkelompok. Sebanyak 16 peserta dari Indonesia dibagi empat kelompok. Masing-masing kelompok diberi sepuluh soal. ''Kami diberi waktu sepuluh menit untuk diskusi pembagian pengerjaan soal,'' terangnya.
Setelah waktu habis, tempat duduk masing-masing kelompok dipisahkan lagi. Meski soalnya sulit, Alif mengaku tidak merasa deg-degan seperti saat lomba di Singapura. Maklum, kontes di Singapura merupakan kiprah pertama Alif di tingkat internasional. Sayang, pada ajang yang kedua itu, tim dari Indonesia hanya mampu membawa medali perunggu. Hampir seluruh medali emas diborong Tiongkok. Meski demikian, putra pasangan Bharata Kussatyana Wibowo dan Sri Umi Masithorini itu tetap bersyukur karena mampu menggondol medali perunggu.
Di sela acara kompetisi, panitia mengadakan acara jalan-jalan bersama. Sayang, Alif tidak sempat mengikuti seluruhnya. Dia dan rombongan hanya bisa ikut separo jadwal. Kepala rombongan menyuruh mereka beristirahat agar tidak lelah ketika lomba. ''Jadi, saya cuma ke Chiang Mai Zoo dan Elephant Camp saja. Yang ke Royal Flora Garden dan Queen Sirikit Garden saya tidak ikut,'' ujarnya.
Prestasi yang dimiliki Alif tidak datang begitu saja. Sewaktu kecil, Alif adalah anak yang tergolong hiperaktif. Saat mendaftar di TK Al Hikmah, dia diperbolehkan masuk dengan catatan harus diterapi ke psikolog terlebih dahulu. Mengetahui hal itu, ibunya kemudian menyekolahkan Alif ke TK Al Azhar.
Itho' -panggilan ibu Alif- juga membawa anaknya berkonsultasi ke psikolog. Psikolog tersebut menyatakan bahwa Alif kecil punya energi yang berlebih. Dia harus diberi banyak kegiatan untuk menyalurkan energinya. Itho' juga berkonsultasi dengan ayahnya (kakek Alif, Red) yang juga berprofesi sebagai psikiater. ''Dari situlah makanya saya mengikutkan Alif ke berbagai les dan kegiatan. Selama itu positif, Alif saya daftarkan,'' terangnya.
Bocah penggemar komik itu kemudian ikut les bahasa Inggris, matematika, sempoa, renang, menggambar, dan lainnya. Dari situlah sifat hiperaktifnya mulai berkurang. Alif kecil menikmati saat-saat belajarnya tersebut. Yang paling dia sukai adalah les sempoa.
''Kalau les sempoa atau matematika tanpa disuruh pun dia langsung berangkat. Tapi, kalau les menggambar, masih tawar-menawar dulu,'' terang Itho'. Begitu senangnya dengan matematika, putra pertamanya itu beberapa kali menjuarai lomba mental aritmatika tingkat nasional. Dia juga menjadi juara kelas setiap tahun. Nilai matematikanya selalu sepuluh.
Kendati sering menjuarai berbagai lomba, Alif tergolong siswa yang jarang belajar. Dalam sehari, dia hanya belajar sekitar 10 menit hingga 1 jam. ''Tapi, kalau dia belajar terlalu sebentar, pasti saya tegur,'' ujar Itho'.
Meski demikian, Itho' terkadang sering heran sendiri. ''Meski belajarnya cuma sebentar, dia sering pulang sambil menunjukkan hasil ujian yang mendapat nilai sepuluh,'' imbuh perempuan berjilbab itu.(oni)
Sumber Jawa Pos, Kamis 6 November 2008
Dimuat juga di :
1. Harian Surya
2. Surabaya Pos
3. Suarasurabaya.net