YLPI Al Hikmah, Meniti Jalan DakwahDikirim pada hari Rabu - 2 Desember 2009 
Oleh. Muhammad Ghufron
Meniti jalan dakwah. Ini menjadi landasan tekad bagi Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al Hikmah, Surabaya, dalam menjalankan program pendidikannya di masyarakat. Tentu, ini berlaku di setiap tingkat pendidikan yang dise¬lenggarakan Al Hikmah.
Al Hikmah tercatat sebagai lembaga pendidikan pertama di Jawa Timur yang menerapakan sistem Full Day School pada 1991. Sistem itu berlaku untuk semua sekolah Al Hikmah, dari mulai kelompok bermain, TK, SD, SMP, hingga SMA.
Public Relation Manager YLPI Al Hikmah, Shiddiq Baihaqi, mengungkapkan, prinsip dakwah menjadi se¬buah keunggulan bagi lemba¬ganya dibandingkan lembaga pendidikan lainnya. Sejak awal berdiri, kata dia, Al Hikmah memang mengede¬pankan dakwah.
"Misi dakwah ini menjadi kekuatan dan keunggulan Al Hikmah," kata Baihaqi di Surabaya, Rabu (18/11) lalu. Namun, ia menegaskan pula misi dakwah ini tak meng¬abaikan bidang lainnya, yaitu upaya untuk menghasilkan lulusan yang unggul.
Perpaduan misi dakwah dan menghasilkan lulusan unggul ini tersemat dalam semboyan berbudi dan berprestasi. Sebab, faktor penting lain yang membuat para orang tua memercaya¬kan anaknya bersekolah di Al¬Hikmah adalah jaminan kuali¬tas lulusan.
Jadi, selain menyediakan fasilitas yang serba lengkap dan unggul, jaminan mutu lulusan itu diterjemahkan dalam bentuk kurikulum. Al Hikmah, kata Baihaqi, tak hanya menggunakan kuriku¬lum pendidikan nasional, tetapi juga memiliki kurikulum sendiri.
Ini semua, jelas Baihaqi, untuk menjamin kualitas lulusan tadi. Ia mencontohkan mata pelajaran tentang Alquran yang diberikan alokasi waktu selama satu jam setiap hari. Ini berlaku untuk siswa di semua jenjang pendidikan mulai SD, SMP, hingga SMA.
Di sisi lain, kualitas SDM, terutama para pendidik di Al¬Hikmah, juga jaminan kuali¬tas. Rekrutmen pengajar, ujar Baihaqi, didasarkan pula pa¬da prinsip dakwah tadi. "Al¬Hikmah lebih memilih lulusan perguruan tinggi bukan kegu¬ruan yang memiliki spesiali¬sasi keguruan."
Sebagian pengajar yang direkrut Al Hikmah, jelas Bai¬haqi, merupakan para aktivis dakwah kampus. Pertimbang¬annya, mereka telah memiliki fondasi dakwah yang mum¬puni. Moralitas mereka, kata dia, juga relatif terjaga.
"Ini penting sebab Al Hikmah memang lebih men¬jadikan dakwah sebagai sa¬lah satu nilai penting dalam mencetak generasi yang berbudi dan berprestasi," kata Baihaqi. Apalagi, kata dia, Al Hikmah juga sejak awal berkeinginan menjadi agen perubahan dalam masyarakat.
Al Hikmah, jelas Baihaqi, ingin melihat kehidupan ma¬syarakat yang lebih balk se¬suai dengan Alquran dan su¬nah. la menambahkan, Al Hikmah ingin pula menjadi lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah dicontoh.
Tak aneh jika AI-Hikmah yang berdiri pada 1989 ini selalu kedatangan serom¬bongan tamu dari berbagai daerah, terutama pada hari Rabu. ''Kami memang menyediakan waktu khusus untuk menerima tamu-tamu itu pada setiap Rabu," kata Baihaqi.
Menurut Baihaqi, Al Hikmah tak pernah sepi-dari kunjungan tamu lembaga pendidikan. Pada 2008 lalu, AI Hikmah mendapat kun¬jungan 2.500 tamu dari 125 lembaga. Selain melakukan studi banding, tamu-tamu itu juga ingin magang.
Jadi, Al Hikmah, yang dulu hanya menempati serambi Masjid Al Hikmah Surabaya dengan dua orang guru dan 13 siswa itu, kini telah ber¬kembang pesat. Lembaga ini telah menarik banyak minat masyarakat untuk menyeko¬lahkan anaknya dan juga menjadi acuan studi banding.
Di sisi lain, Baihaqi meng¬ungkapkan, produk sistem pendidikan nasional mengala¬mi peningkatan signifikan ter¬bukti banyak siswa prestasi.
Sayang, ujar Baihaqi, sisi kualitas akhlak dan moralitas dari sistem pendidikan nasio¬nal masih menjadi keprihatin¬an banyak kalangan. Dalam konteks ini, Al Hikmah hadir. Al Hikmah ingin melahirkan lulusan yang tak hanya memiliki kemampuan intelektual tinggi dan berakhlaq mulia…
Harian Republika, 20 November 2009